Sabtu, 20 Oktober 2012

PELAYANAN PERPUSTAKAAN


Pelayanan Perpustakaan
Bag 1
Tujuan dan Fungsi Pelayanan Perpustakaan
1.      Perlayanan perpustakaan meliputi layanan:
1.      pada berbagai jenis perpustakaan,
2.      ruang baca,
3.      sirkulasi bahan pustaka,
4.      rujukan,
5.      abstrak dan indeks,
6.      informasi mutakhir,
7.      literatur dan sebagainya.
2.      Perpustakaan adalah pelayanan. Pelayanan berarti kesibukan. Bahan-bahan pustaka sewaktu-waktu harus tersedia bagi mereka yang memerlukannya. Tidak ada perpustakaan kalau tidak ada layanan.
3.      Suatu tanda yang menunjukkan profesi pustakawan adalah kegiatan layanan dan pustakawan harus selalu memperhatikan kebutuhan pembacanya dalam bidang literatur. Perpustakaan menjadi penting jika berhasil menyediakan bahan pustaka secara cepat dan tepat. Agar dapat mengerjakan itu semua dengan baik maka bagian layanan teknis harus mengolah bahan pustaka sebaik-baiknya.
4.      Fungsi perpustakaan tidak boleh menyimpang dari tujuan perpustakaan, sesuai tujuan lembaga tempat perpustakaan itu bernaung. Fungsi perpustakaan antara lain:
1.      Fungsi Informasi.
2.      Fungsi Edukasi.
3.      Fungsi Rekreasi.
4.      Fungsi Pelestarian dan Deposit
5.      Fungsi Penelitian.
5.      Tujuan utama perpustakaan ialah melayani pembaca memperoleh bahan perpustakaan yang mereka perlukan. Bahan perpustakaan yang terkumpul dipakai di tempat dan dibawa pulang. Bahan perpustakaan yang banyak tetapi rendah pemakaiannya menunjukkan bahan perpustakaan itu kurang baik.
6.      Agar pembaca mengetahui apa yang ada di perpustakaan maupun kegiatan-kegiatan perpustakaan yang lain perlu diadakan promosi. Tanpa promosi produk perpustakaan tidak diketahui oleh pembaca. Hal ini sangat merugikan kedua belah pihak: yaitu pembaca maupun perpustakaan. Perpustakaan yang dipakai pembaca merangsang pustakawan berbuat banyak dan bersifat aktif. Dengan demikian perpustakaan menjadi maju.
7.      Masalah rendahnya minat baca bukan milik negara-negara baru berkembang saja tetapi juga milik negara-negara maju. Banyak anak dari negara maju menjadi “buta huruf” setelah menyelesaikan sekolah mereka, karena enggan membaca lagi.
8.      Perpustakaan sekolah memberikan pelayanan kepada guru, murid, dan orang tua murid. Guru-guru dipacu untuk memakai perpustakaan sehingga mereka juga dapat menyuruh murid-murid untuk mencari bahan yang ada di perpustakaan. Perpustakaan sekolah melatih murid agar dapat mencari informasi secara mandiri.
9.      Layanan kepada masyarakat tidak memandang perbedaan ras, umur, jenis kelamin, dan dasar pendidikan. Karena itu cakupan koleksi luas sekali. Ini dimaksudkan agar perpustakaan dapat memberikan kepuasan kepada mereka. Juga tingkat ke dalaman materi koleksi begitu luas dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit. Fungsi perpustakaan umum adalah untuk rekreasi dan penelitian. Fungsi pendidikan tak dapat ditinggalkan, sebab ada masyarakat yang tak dapat melanjutkan pelajaran formal. Mereka dapat belajar di perpustakaan umum sampai memiliki pengetahuan yang setaraf dengan mereka yang terpelajar. Bahkan mungkin melebihi mereka karena kebiasaan belajar mandiri membuka kesempatan untuk belajar seumur hidup.
10.  Pelayanan pada perpustakaan khusus diberikan kepada sekelompok pemakai khusus dalam bidang yang khusus pula. Tetapi jika masyarakat luar menghendaki, mereka dapat menggunakan perpustakaan tersebut atas persetujuan penyelenggara perpustakaan.
Perpustakaan perguruan tinggi melayani sivitas akademika dalam lingkungan perguruan tinggi tersebut. Layanan ditekankan untuk menyukseskan program pendidikan dan pengajaran di perguruan tinggi tersebut. Perpustakaan hendaknya memberi kesempatan kepada pembaca untuk mengadakan penelitian, misalnya dalam membuat makalah kecil sampai penelitian kompleks yang melibatkan banyak pihak. Hasil penelitian tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Layanan Ruang Baca
Layanan ruang baca merupakan bagian pokok dalam kegiatan layanan perpustakaan, selain layanan sirkulasi dan layanan teknis. Dalam sajian ini layanan ruang baca dibagi menjadi:
1.      layanan ruang baca buku rujukan
2.      layanan ruang baca berupa meja baca perorangan
3.      layanan ruang baca berupa meja baca kelompok
4.      fasilitas untuk ruang baca yang baik
5.      perluasan dan ruang baca berupa ruang untuk diskusi
6.      ruang baca yang berupa ruang kerja bagi pembaca perpustakaan
7.      ruang santai.
Tujuan pokok bahasan di atas dapat diuraikan sebagai berikut.
1.      Layanan ruang baca buku rujukan
Buku rujukan adalah bahan perpustakaan yang sangat penting karena dari buku-buku ini berbagai pertanyaan dapat dijawab. Dalam ruangan ini, biasanya ada petugas atau pustakawan rujukan yang siap sedia memberikan bantuan. Jawaban pertanyaan rujukan tidak semuanya diperoleh dari buku, tetapi dapat juga dari pengalaman petugas perpustakaan.
Lengkap tidaknya koleksi buku rujukan menunjukkan mutu layanan yang diberikan perpustakaan. Buku-buku rujukan tidak boleh dipinjam ke luar perpustakaan. Perpustakaan yang sudah maju dan mempunyai biaya biasanya menyediakan mesin foto kopi.
2.      Layanan ruang baca berupa meja baca perorangan
Layanan ini sebenarnya sekedar perluasan dari fasilitas ruang baca. Maksudnya, untuk memberikan kenyamanan bagi mereka yang menghendaki ketenangan khusus. Dengan fasilitas ini seolah pembaca memiliki ruang khusus di perpustakaan yang tidak boleh diganggu orang lain. Ia juga merasa bahwa dirinya tidak mau mengganggu orang lain. Suasana nyaman dapat meningkatkan semangat belajar atau membaca di perpustakaan.
3.      Layanan ruang baca berupa meja baca kelompok
Ruang baca jenis ini terdapat di berbagai perpustakaan. Ada kelemahan dan keunggulan meja baca jenis ini. Kelemahannya ialah saling mengganggu di antara para pembaca. Keunggulannya, pertama, menghemat ruang dan fasilitas perpustakaan, karena adanya ruang baru itu. Kedua, karena melihat teman sebangkunya membaca, ia sendiri mungkin akan berbuat demikian.
4.      Fasilitas untuk ruang baca yang baik
Ruang baca hendaknya dilengkapi berbagai fasilitas untuk menunjang kenyamanan. Pemasangan AC atau jendela yang luas, dapat memperlancar sirkulasi udara. Penerangan harus memadai. Sinar yang baik adalah sinar alami. Dianjurkan, perpustakaan memiliki pengontrol sinar pada setiap jendela, misalnya dengan krey (blind fold).
5.      Perluasan dari ruang baca berupa ruang untuk diskusi
Ruang ini dapat digunakan oleh sekelompok pembaca yang memiliki minat yang sama untuk membahas sesuatu. Buku-buku dibawa dari perpustakaan kemudian dibicarakan bersama di sana.
6.      Ruang baca yang berupa ruang kerja bagi pembaca perpustakaan
Ruang ini dapat digunakan untuk pembaca remaja dan anak-anak agar mereka dapat berkarya. Meskipun perpustakaan menyediakan fasilitas dan mengeluarkan biaya, tetapi nilai kegiatan ini sangat tinggi.
7.      Ruang santai
Ruang ini dapat digunakan oleh pembaca yang telah lelah membaca agar segar kembali. Sambil beristirahat ia dapat membaca dan menonton televisi.
Berbagai Cara untuk Meningkatkan Mutu Layanan Perpustakaan
Upaya untuk meningkatkan mutu layanan perpustakaan tidak boleh dipisahkan dengan kegiatan pustakawan sehari-hari. Banyak upaya yang dapat dikerjakan, misalnya:
1.      sikap ramah dan penampilan pustakawan yang baik dalam memberikan layanan,
2.      menyediakan brosur tentang kegiatan yang ada di perpustakaan,
3.      mengadakan berbagai perlombaan di perpustakaan: lomba membaca, lomba menggambar, lomba membaca puisi, dan sebagainya,
4.      mengadakan study tour bersama di perpustakaan,
5.      mengundang tokoh masyarakat atau seorang pakar untuk berceramah, menceritakan pengalaman mereka, dan sebagainya,
6.      membuat jadwal kegiatan yang teratur, memetik dari bahan yang dimiliki perpustakaan,
7.      berbagai kegiatan lainnya yang tidak termasuk di atas
Sirkulasi Bahan Pustaka
Bagian sirkulasi menyangkut masalah peredaran bahan-bahan perpustakaan yang dimiliki oleh perpustakaan dengan para pemakainya. Yang dibahas adalah masalah peminjaman, misalnya bahan-bahan yang boleh dipinjam, jangka waktu peminjaman, jam buka perpustakaan, dan statistik untuk membuat laporan perpustakaan. Umumnya perpustakaan meminjamkan buku hanya pada masyarakat di lingkungan tertentu.
Jenis bahan yang boleh dipinjam, ada yang terbatas pada buku-buku saja, adapula yang meminjamkan majalah, pamflet, atau bahan-bahan pustaka lainnya.
Untuk melancarkan pekerjaan bagian sirkulasi ini, perlu dibuatkan buku petunjuk yang memuat keterangan mengenai:
1.      peraturan penggunaan bahan perpustakaan,
2.      macam-macam bahan yang boleh dan tidak boleh dipinjamkan,
3.      kebijakasanaan mengenai masalah lewat waktu, uang denda, dan penggantian buku-buku yang hilang atau rusak,
4.      keterangan mengenai jam buka perpustakaan
5.      keterangan mengenai tanda-tanda pada bahan pustaka,
6.      dan keterangan lain-lain yang dianggap perlu untuk diketahui petugas bagian sirkulasi, petugas bagian lain, atau para peminatnya.
Tujuh pekerjaan utama bagian sirkulasi adalah:
1.      pendaftaran peminjam,
2.      prosedur peminjaman,
3.      pemungutan denda,
4.      pengawasan buku-buku tandon (reserves books),
5.      perpanjangan waktu,
6.      statistik peminjaman, dan
7.      pinjam antarperpustakaan.

Pengawasan Buku Tandon
Buku tandon atau buku reserve harus diatur peminjamannya seefektif mungkin. Buku harus dimasukkan sebagai buku tandon jika buku tersebut diminati banyak pembaca, sedangkan jumlahnya sangat terbatas. Yang termasuk buku jenis ini umumnya buku ajar atau buku teks. Artikel majalah untuk mendukung suatu mata kuliah pada sebuah perpustakaan perguruan tinggi juga bisa dimasukkan ke dalam jenis buku yang di-reserve ini. Prinsipnya peredaran buku tandon harus merata.
Perpanjangan waktu peminjaman dapat dilaksanakan melalui telepon atau datang ke perpustakaan. Kalau sebuah buku tidak dipesan oleh seseorang, maka buku dapat diperpanjang. Sedangkan jika buku tersebut dipesan untuk dipinjam bagi orang lain, buku tersebut tidak boleh diperpanjang
Buku yang terlambat dari batas waktu peminjaman harus dikenakan denda. Denda ini tidak memandang bulu. Baik itu seorang dosen; pimpinan lembaga, maupun seorang bawahan yang tak mampu membayarnya. Hal ini dilakukan untuk menanamkan disiplin bagi semua pihak.
Statistik peminjaman perlu dibuat dari statistik harian, mingguan, bulanan sampai statistik tahunan. Statistik ini berguna untuk mengukur perkembangan layanan perpustakaan. Pinjam antarperpustakaan perlu digalakkan mengingat kegiatan tersebut banyak sekali manfaatnya bagi kualitas pelayanan perpustakaan. Perpustakaan di mana saja tentu memiliki keterbatasan. Tidak mungkin bisa membeli seluruh buku yang terbit di dunia walau satu bidang saja. Untuk mengatasi hal yang demikian perlu diadakan kerja sama antarperpustakaan
Waktu pelayanan atau jam buka perpustakaan harus ditentukan dengan teliti berdasarkan uji coba berkali-kali atau berdasarkan statistik. Hal ini dimasudkan agar tidak sia-sia dalam pelayanan. Jam buka pada waktu masyarakat tidak mungkin bisa mengunjungi perpustakaan adalah hal yang sia-sia. Perlu pula diusahakan kesempatan seluas mungkin untuk buka perpustakaan sehingga pengunjung dapat datang sesuai waktu yang dimilikinya.
Perpustakaan universitas perguruan tinggi hendaknya mengusahakan buka sepanjang hari, jika saja perpustakaan mampu menyelenggarakannya. Terutama pada musim ujian, hendaknya waktu buka perpustakaan lebih lama. Bahkan kalau perlu dibuka hari Minggu, walau hanya beberapa jam.
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai ialah:
1.      Tujuan minimum.
1.      Memungkinkan mengetahui bahan yang dipinjam.
2.      Mengetahui siapa yang meminjam bahan tersebut.
3.      Menjamin kembalinya bahan yang dipinjamkan.
4.      Memungkinkan pelaksanaan kerja yang dipinjamkan.
5.      Mendapatkan angka-angka mengenai jumlah bahan-bahan yang dipinjamkan dan jumlah peminjam.
2.      Syarat-syarat minimum.
1.      Sistem yang dipakai hendaknya mudah digunakan oleh peminjam dan sederhana dalam pelaksanaannya oleh pegawai.
2.      Sistem yang dipakai hendaknya murah.
3.      Tujuan Tambahan.
1.      Memungkinkan menyusun daftar dari pembaca-pembaca yang nakal
2.      Memungkinkan menyusun statistik tentang penggunaan buku.
4.      Syarat-syarat tambahan:
1.      Sistem yang dipakai hendaknya dapat disesuaikan dengan bermacam-macam masa peminjam.
2.      Sistem yang dipakai hendaknya mengurangi kemacetan dalam pelayanan kepada peminjam.
3.      Penggunaan sistem baru hendaknya tidak merupakan peningkatan biaya yang menimbulkan masalah baru.
Yang dimaksud overnight loan ialah peminjaman semalam untuk buku-buku yang sebenarnya tidak boleh ke luar perpustakaan. Pada dasarnya buku referensi tidak untuk dipinjam ke luar, sebab sewaktu-waktu dipakai pengunjung.
Bahan audio visual adalah bahan yang sangat bermanfaat untuk belajar mandiri maupun belajar kelompok. Untuk layanan peminjaman mandiri, disediakan study carrel meja untuk belajar sendiri. Biasanya layanan semacam ini untuk perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan umum.






PAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN JASA RUJUKAN*)
Oleh Lamang**)
I. Pendahuluan
Sejarah modern membuktikan bahwa mutu pendidikan dapat memperoleh wajah suatu negara dalam satu generasi. Jepang dan Korea Selatan dalam waktu kurang dari lima puluh tahun telah dapat merubah negaranya dari suatu negara agraris menjadi negara industri, berkat sistem pendidikan yang diarahkan ke penguasaan teknologi dan informasi. Pendidikan yang maju merupakan sarana yang terpenting untuk mebangun suatu negara.
Salah satu tujuan kemerdekaan kita adalah memberi kesempatan kepada semua warga Negara Indonesia untuk menuntut ilmu demi perbaikan taraf hidupnya, sesuai dengan perhatian dan kemampuan intelektualnya. Usaha pemerintah ke arah ini telah dilaksanakan dengan menambah jumlah sekolah, menyediakan sumber informasi dan mengalokasikan anggaran pendidikan tahun 2006 sebanyak 37,8 trilium (Fajaronline,2005). Peningkatan kuantitas sekolah belum cukup untuk dapat menghasilkan manusia yang terdidik, sebagai sarana utama membangun masa depan Indonesia. Peningkatan kuantitas harus diikuti dengan peningkatan mutu pendidikan. Mutu pendidikan yang tinggi bagi warga Negara merupakan sarana terpenting bagi pembangunan disamping sumber kekayaan alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Untuk dapat ikut dalam percaturan dunia, kita harus dapat mengikuti perkembangan dunia terutama perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sarana dan cara yang diperlukan untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah mendirikan perpustakan, taman bacaan dan sumber-sumber belajar lainnya dan menggalakkan kebiasaan atau kegemaran membaca yang harus ditanamkan sejak usia dini.
Untuk menanamkan kebiasaan atau kegemaran membaca faktor-faktor yang mempengaruhi adalah guru, orang tua, alat dan lingkungan belajar, serta sarana belajar yang memadai yang satu sama lain saling berkaitan. Sarana belajar yang dimaksud adalah eksistensi perpustakaan di tengah-tengah siswa dan pelaku organisasi sekolah lainnya.
Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan pendidikan yang semakin mendesak dan mengalami paradigma baru dalam praktik antara lain:
1. Waktu berubah, dan kebutuhan berubah pula, yakni pendidikan selalu berkembang dan berubah. Dari pendekatan mengajar secara tradisionl ke arah aspek modern yang melibatkan sitem multimedia dan komunikasi elektronik. Pencarian jawaban yang tepat sekarang ini tidak cukup dari satu sumber saja. Begitu juga keseimbangan antara “content dan “process” dalam ruang lingkup filsafat pendidikan. Yang dimaksud “content” adalah text book (bahan ajar) dan examination (ujian) . Sedangkan “process” mengedepankan proses penggunaan aneka ragam sumber belajar dalam pembelajaran ( teaching).
2. Landasan filosofis pendidikan yang berubah akan membuat perubahan dalam pedagogi, yakni:
- Dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Siswa lebih banyak terlibat dalam pembelajaran dan guru bertindak sebagai fasilitator.
- Dari pembelajaran berdasarkan bahan ajar menjadi pembelajaran berdasarkan sumber belajar (from text book based learning to resource based learning);
- Dari penilaian sumatif produk menjadi penilaian formatif proses ( From summative assessment of products to formative assessment of process).
Dan apabila perubahan dalam pedagogi ini terjadi, maka peran perpustakan sekolah akan menjadi signifikan dalam pembelajaran di sekolah khususnya sistem belajar mengajar. Selanjutnya akan terimbas perubahan perpustakaan dari hanya berperan sebagai ‘layanan penunjang” (supportive service) menjadi mitra proses pembelajaran yang aktif. Dan juga perpustakaan berubah dari penyedia informasi tercetak menjadi koleksi multimedia dinamis yang menyediakan informasi lengkap yang berhubungan kegiatan kurikulum.
II. Pengertian Layanan
Banyak argumentasi yang menyatakan bahwa layanan perpustakaan merupakan titik sentral kegiatan perpustakaan. Dengan kata lain, perpustakaan identik dengan layanan karena tidak ada perpustakaan jika tidak ada kegiatan layanan. (Nasution, 1992 : 2).
Layanan perpustakaan adalah pemenuhan kebutuhan dan keperluan kepada pengguna jasa perpustakaan. Tugas yang mulia dan tujuan sebenarnya layanan perpustakaan adalah melayani pengunjung dan pengguna perpustakaan.
Aktivitas layanan perpustakaan dan informasi bararti penyediaan bahan pustaka secara tepat dan akurat dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi bagi para pengguna perpustakaan. Perpustakaan memberikan layanan bahan pustaka kepada masyarakat adalah agar bahan pustaka tersebut yang telah diolah dapat dimanfaatkan dengan cepat oleh masyarakat pengguna perpustakaan .
III. Tujuan dan Fungsi Layanan
Tujuan dan fungsi layanan perpustakaan sekolah adalah menyajikan informasi guna kepentingan pelaksanaan proses belajar mengajar dan rekreasi bagi siswa-siswi, dengan menggunakan bahan pustaka yang ada di perpustakaan tersebut. Kegiatan layanan di perpustakaan sekolah meliputi, peminjaman buku-buku, melayani kebutuhan pelajar dalam kelas, menyediakan sumber informasi bagi murid dan guru serta tenaga administrasi sekolah, membimbing siswa untuk mahir dalam mencari informasi secara mandiri.
Lasa Hs, Seorang kolomnis Perpustakaan dan Pustakawan Universitas Gajah Mada Yogyakarta, membagi 5 (lima) fungsi perpustakaan sekolah adalah 1) Menunjang proses pendidikan; 2) Mengembangkan minat dan bakat siswa; 3) Mengembangkan minat baca guru dan siswa; 4) Menjadi sumber informasi; 5) Memperoleh bahan rekreasi kultural. Sedangkan dalam Surat Keputuan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nomor: 0103/O/1981, tanggal 11 Maret 1981, membagi beberapa fungsi perpustakaan sekolah sebagai berikut:
1. Sebagai Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah;
2. Pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya;
3. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (Buku-buku hiburan).
Dari ketiga pendapat tentang fungsi dan tujuan perpustakaan sekolah tersebut di atas, ada salah satu fungsi yang sangat menarik dan perlu dikembangkan adalah sebagai fungsi sumber informasi. Fungsi ini memiliki multifungsi karena dapat dijadikan sebagai sarana belajar untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas sekolah bagi siswa-siswi dan juga dapat berfungsi menambah wawasan dan mewujudkan kreativitas bakat siswa-siswi yang dimiliki sehingga dapat menghasilkan prakarya sederhana bagi diri pribadi yang mandiri kelak.
IV. Sistem Layanan Perpustakaan
Layanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan teknis yang pada pelaksanaannya perlu adanya perencanaan dalam penyelenggaraannya. Layanan perpustakaan akan berjalan dengan baik apabila akses layanan digunakan tepat dan sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
Ada tiga jenis akses dalam layanan perpustakaan, yakni akses layanan terbuka (Open Access), akses layanan tertutup (Close Access), dan akses layanan campuran. Ketiga akses layanan ini ada hubungannya dengan cara bagaimana perpustakaan memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk menemukan bahan pustaka dalam mencari informasi. Masing-masing akses tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahannya, dan berbeda dalam pelaksanaannya.
a. Akses Layanan Terbuka (Open Access)
Akses layanan ini memberikan kebebasan kepada pengguna untuk menemukan dan mencari bahan pustaka yang diperlukan. Pengguna diizinkan langsung ke ruang koleksi perpustakaan, memilih dan mengambil bahan pustaka yang diinginkan. Tujuan akses layanan terbuka adalah memberikan kesempatan kepada pengguna untuk mendapatkan koleksi seluas-luasnya, tidak hanya sekedar membaca-baca di rak, tetapi juga mengetahui berbagai alternatif dari pilihan koleksi yang ada di rak, yang kira-kira dapat mendukung penelitiannya. Akses layanan terbuka biasanya diterapkan untuk layanan di perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan perguruan tinggi.
Ada beberapa kelebihan yang dapat diambil, apabila perpustakaan menggunakan akses layanan terbuka, antara lain adalah :
a. Pengguna bebas memilih bahan pustaka di rak.
b. Pengguna tidak harus menggunakan katalog
c. Pengguna dapat mengganti bahan pustaka yang isinya mirip, jika bahan pustaka yang dicari tidak ada.
d. Pengguna dapat membandingkan isi bahan pustaka dengan judul yang dicarinya.
e. Bahan pustaka lebih bermanfaat dan didayagunakan
f. Menghemat tenaga pustakawan.
Selain kelebihan tersebut, akses layanan terbuka juga memiliki beberapa kelemahan antara lain adalah:
a. Pengguna cenderung mengembalikan bahan pustaka seenaknya, sehingga mengacaukan dalam penyusunan bahan pustaka di rak.
b. Lebih besar kemungkinan kehilangan bahan pustaka.
c. Tidak semua pengguna paham benar dalam mencari bahan pustaka di rak apalagi jika koleksinya sudah banyak.
d. Bahan pustaka lebih cepat rusak.
e. Terjadi perubahan susunan bahan pustaka di rak, sehingga perlu pembenahan terus menerus.
B. Akses Layanan Tertutup (Close Access)
Pada akses layanan koleksi tertutup , berarti pengguna tidak boleh langsung mengambil bahan pustaka di rak, tetapi petugas perpustakaan yang akan mengambil. Dengan menggunakan akses ini petugas akan lebih sibuk karena harus mancari bahan pustaka di rak, terutama pada jam-jam sibuk pada saat banyak pengguna yang memerlukan bahan pustaka. Tujuan akses layanan ini adalah memberikan layanan secara terbatas kepada pengguna, sehingga pengguna tidak dapat mencari bahan pustaka yang dibutuhkannya di rak, tetapi akan dilayani oleh petugas. Oleh karena itu, pengguna harus mencari nomor panggil bahan pustaka melalui katalog yang disediakan.
Kelebihan dengan menggunakan akses layanan tertutup adalah sebagai berikut :
a. Bahan pustaka tersusun rapi di rak, karena hanya petugas yang mengambil.
b. Kemungkinan kehilangan bahan pustaka sangat kecil.
c. Bahan pustaka tidak cepat rusak
d. Penempatan kembali bahan pustaka yang telah digunakan ke rak lebih cepat
e. Pengawasan dapat dilakukan secara longgar.
f. Proses temu kembali lebih efektif.
Adapun kekurangan dengan menggunakan akses layanan tertutup adalah sebagai berikut :
a. Pengguna tidak bebas dan kurang puas dalam menemukan bahan pustaka
b. Bahan pustaka yang didapat kadang-kadang tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna
c. Katalog cepat rusak
d. Tidak semua pengguna paham dalam menggunakan tehnik mencari bahan pustaka melalui katalog
e. Tidak semua koleksi dimanfaatkan dan didayagunakan oleh pengguna
f. Perpustakaan lebih sibuk.
C. Akses Layanan Campuran ( Mixed Acces )
Pada akses layanan campuran perpustakaan dapat menerapkan dua sistem pelayanan sekaligus, yaitu layanan terbuka dan layanan tertutup. Perpustakaan yang menggunakan sistem layanan campuran biasanya memberikan layanan secara tertutup untuk koleksi skripsi, koleksi referens, Deposit, atau tesis, sedangkan untuk koleksi lainnya menggunakan akses layanan terbuka.
Sistem layanan campuran ini biasanya diterapkan di perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah.
Kelebihan akses layanan campuran adalah sebagai berikut
a. Pengguna dapat langsung menggunakan koleksi referens dan koleksi umum secara bersamaan.
b. Tidak memerlukan ruang baca khusus koleksi referens.
c. Menghemat tenaga layanan.
Adapun kelemahan akses layanan campuran adalah sebagai berikut :
a. Petugas sulit mengontrol pengguna yang menggunakan koleksi referens dan koleksi umum sekaligus.
b. Ruang koleksi referens dan koleksi umum menjadi satu.
c. Perlu pengawasan yang lebih ketat.
V. JENIS-JENIS LAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH
1. Layanan Sirkulasi Bahan Pustaka
a. Pengertian dan Tujuan
Kegiatan pada layanan sirkulasi merupakan ujung tombak jasa perpustakaa, karena pada bagian sirkulasi pertama kali harus berhubungan dengan masalah administrasi peminjaman bahan pustaka. Kegiatan peminjaman ini sering dikenal dengan istilah sirkulasi. Bagian sirkulasi berkaitan dengan masalah peredaran koleksi yang dimiliki perpustakaan. Tujuan layanan sirkulasi adalah memperlancar dan mempermudah proses peminjaman bahan pustaka untuk dibawa pulang oleh pengguna. Pekerjaan pada bagian layanan sirkulasi dibagi menjadi 7 (tujuh) jenis yaitu: pendaftaran peminjaman, prosedur peminjaman, pemungutan denda, pengawasan buku-buku tandon (buku yang dipesan), administrasi peminjaman, statistik peminjaman, dan pinjam antar perpustakaan.
  1. Unsur-unsur Pendukung
Kelancaran pekerjaan pada bagian sirkulasi sangat berpengaruh terhadap kelancaran seluruh kegiatan layanan. Oleh karena itu pada bagian sirkulasi perlu didukung beberapa unsur pendukung seperti berikut ini :
1. Buku petunjuk dan sarana administrasi lainnya, yang memuat keterangan mengenai peraturan penggunaan bahan pustaka, bahan pustaka yang boleh dipinjamkan, kebijakan mengenai denda, penggantian buku yang hilang, jam buka perpustakaan, dan keterangan lain yang memberi pedoman kepada pembaca.
2. Sarana mobiler dan laci sirkulasi;
3. Sarana mesin ketik dan komputer lengkap perangkat jaringan lainnya;
4. Kalender dan Jam dinding.
  1. Cara Pelaksanaannya
Setiap kali ada pembaca yang ingin meminjam bahan pustaka, maka petugas bagian sirkulasi melakukan hal-hal sebagai berikut:
Mengambil kartu buku dari kantong buku, tulis tanggal buku harus dikembalikan pada lajur tanggal kembali, minta kartu peminjaman dan kartu buku.
Mencatat tanggal kembali dalam lembar pengembalian yang ditempelkan pada bahan pustaka. Catatan ini merupakan peringatan bagi pembaca kapan ia harus mengembalikan bahan pustaka.
Setelah jam peminjaman selesai, petugas menyusun kantong-kantong peminjaman dalam kotak peminjaman.
Dalam proses pengembalian bahan pustaka maka pengguna mengambil kartu buku ke kantong buku, kantong peminjaman dikembalikan kepada pembaca, coret catatan tanggal harus kembali kembalikan buku ke rak.
Bila buku terlambat dikembalkan petugas menghitung denda sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Uang denda bervariasi tergantung pada kebijakan masing-masing perpustakaan. Apabila terjadi keterlambatan dalam pengembalian buku, petugas perlu mengirimkan surat peringatan.
Pegawai layanan sirkulasi juga harus membuat statistik peminjaman, baik tentang tambahan anggota baru, jumlah buku yang dipinjam, peminjaman berdasarkan subyek atau klasifikasi, dan jumlah pengunjung. Jenis statistik harian harus dibuat untuk mempermudah membuat statistik bulanan dan tahunan baik dalam bentuk grafik maupun bentuk taleb.
2. Bimbingan Pembaca
Bimbingan pembaca merupakan bimbingan, petunjuk atau panduan serta contoh-contoh kepada pengguna jasa perpustakaan tentang cara-cara membaca yang baik, cepat, dan benar dengan menggunakan koleksi dan peralatan perpustakaan.
Tujuan bimbingan pembaca adalah menemukan buku yang cocok bagi pembaca untuk kepentingan pendidikan, pengembang diri, hiburan, dan lain sebagainya.
3. Program Layanan Informasi
a. Jam Perpustakaan ( Library Hour )
Program ini cocok untuk perpustakaan sekolah, yaitu dengan cara melibatkan siswa dalam kegiatan penyelidikan tentang berbagai jenis subjek yang berhubungan dengan kurikulum sekolah. Semua kegiatan tersebut harus dilakukan di perpustakaan sekolah. Program ini dapat dilakukan setiap minggu dengan cara bergiliran untuk tiap bidang studi. Dan seiring dengan program “Hari Buku” setiap hari Sabtu berkelanjutan pada era tahun 1980-an.
b. Jam Bercerita ( Story Hour )
Program ini merupakan kegiatan layanan untuk anak-anak, baik diperpustakaan umum maupun di perpustakaan sekolah. Layanan ini bermaksud memperkenalkan buku atau bahan bacaan lainnya yang ada di perpustakaan melalui cerita. Sumber cerita diambil dari buku yang ada di perpustakaan. Kegiatan ini dapat dilakukan secara rutin tiap minggu dan cerita yang diambil harus bervariasi.
4. Layanan Audio Visual
Layanan ini menyediakan sarana pandang dengar atau bahan khusus yang sering disebut juga bahan non buku (non books material)). Kehadiran koleksi ini untuk memperkaya bahan pustaka dan memungkinkan perpustakaan memberikan layanan yang lebih beragam kepada pengguna perpustakaan sekolah. Koleksi ini menyajikan materi berupa rekaman suara, gambar hidup dan rekaman video, CD, DVD, bahan grafika (foto dan slide), bahan kartografi, mikro form, (mikro film, dan mikro fich) dan Sarana televisi dan DVD Player lainnya.
5. Layanan Internet (Warintek)
Berdasarkan kemajuan teknologi komunikasi dan teknologi informasi yang begitu cepat perkembangannya dan ledakan informasi yang mengglobal sehingga sulit dibendung, maka peran dan kehadiran layanan internet dan warintek di sekolah-sekolah sangat dibutuhkan sebagai sarana penelusuran informasi cepat dan interaktif. Sehubungan dengan itu dengan diterapkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi yang memuat mata pelajaran Teknologi Kumunikasi dan Informasi mulai kelas VII sampai dengan kelas IX. Mata pelajaran ini memerlukan kegiatan aplikasi materi yang diperoleh siswa-siswa dalam kelas maka tentu harus di praktikkan lansung dan memerlukan latihan di laboratorium atau di ruangan audio vosual perpustakaan.
6. Layanan Silang Layan
Perpustakaan yang satu memberikan jasa referens atas pertanyaan yang berasal dari perpustakaan yang lain. Pinjam antar perpustakaan berarti perpustakaan yang satu meminjam bahan pustaka yang tidak dimiliki ke perpustakaan lain yang memilki bahan pustaka yang diperlukan pengguna. Sistem dan cara seperti ini dapat dilakukan dengan bekerjasama Perpustakaan Keliling, Mobil Pintar, Taman Bacaan lainnya yang ada di wilayah masing-masing.
7. Layanan Terpusat Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan yang dikelola oleh beberapa sekolah yang berada dalam satu lingkungan sekolah yang tidak terlalu berjauhan lokasi antar sekolah yang satu dengan sekolah yang lain. Dengan demikian perpustakan tersebut diharapkan dapat melayani semua jenis sekolah yang berlokasi di sekitar perpustakaan. Jadi hanya ada satu perpustakaan untuk melayani beberapa sekolah.
VI. SISTEM PEMINJAMAN
a. Peminjaman dan Tujuan Peminjaman
Perpustakaan dengan akses terbuka memungkinkan pengguna dapat meminjam bahan pustaka untuk dibawa pulang. Untuk itu perlu diciptakan suatu sistem yang mengatur dalam peminjaman sesuai dengan keperluan perpustakaan. Metode peminjaman diperpustakaan dengan sistem kendali sirkulasi.
Tujuan penentuan dalam penggunaan sistem peminjaman di perpustakaan adalah untuk mempermudah proses administrasi dan prosedur peminjman. Ada bermacam-macam system yang dapat dipilih oleh perpustakaan antara lain :
b. Sistem Peminjaman
1) Sistem Ledger
Sistem ini menggunakan catatan peminjaman melalui pencatatan dalam buku khusus. Setiap halaman diperuntukkan untuk satu nama peminjam. Pada setiap halaman dicatat alamat dan dibuat kolom untuk data Judul buku, tanda buku, nomor panggil, tanggal peminjaman, tanggal harus kembali, nama Pengarang, dan tanda tangan peminjam.
2) Sistem Dummy
Sistem ini menggunakan karton atau papan kayu yang di bungkus kertas yang ukuran yang sama dengan buku, kemudian ditulis lengkap data buku, yaitu nomor panggil, pengarang, judul buku. Pada saat buku dipinjam, maka ditulis nama peminjam, nomor peminjam, dan kapan buku harus kembali. Karton atau papan kayu pengganti buku tersebut diletakkan di rak, ditempat buku yang sedang dipinjam. Sistem lama ini kemudian berkembang menjadi sistem `slip`.
3) Sistem Slip
Sistem ini menggunakan slip yang berisi data tentang peminjaman dan data yang berisi catatan buku yang dipinjam. Buku dicatat data bukunya dalam slip buku, kemudian slip itu disimpan dalam meja peminjaman. Slip ini kemudian dikembangkan menjadi kartu buku yang dimasukkan kedalam kantong buku. Setiap kali ada peminjaman tinggal nama dan tanggal harus kembali yang ditulis.
4) Sistem Kartu Buku
Sistem ini menggunakan kartu buku dan ditempatkan pada setiap buku kartu keanggotaan atau kartu peminjaman, agar buku-buku yang dipinjam oleh pembaca dapat sekaligus terlihat. Sistem ini banyak digunakan di perpustakaan sekolah. Kartu buku ini dibuat dengan cara pada bagian atas dibuat kolom yang berisi kata PENGARANG dan JUDUL, sedangkan catatan lain pada bagian bawah pengarang dan judul ditulis kolom tanggal peminjaman dan nama peminjaman. Bila buku dipinjam, maka kartu di cabut kemudian pada kolom tanggal ditulis, tanggal harus kembali, sedangkan pada kolom nama peminjam ditulis nama peminjam. Kartu ini kemudian disusun menurut tanggal kembali, nama menurut nama pengarang.
5) Sistem Browne
Sistem ini ditemukan akhir abad ke 19 oleh Nina E.Browne pustakawan dari Library Bureau Boston. Sistem ini kemudian digunakan di Inggris. Sistem ini menggunakan teket yang diberikan kepada setiap anggota perpustakaan. Jumlah buku yang boleh dipinjam setiap anggota bervariasi, tergantung pada kebijakan masing-masing perpustakaan. Tiket anggota ini berisi nomor anggota, nama serta alamat yang diketik pada masing-masing tiket. Tiket pembaca berbentuk kantong untuk itu diperlukan kartu buku yang berisi nomor panggil, nomor induk buku, pengarang, judul, edisi dan tahun terbit. Kartu buku ini dimasukkan ke dalam kantong buku diletakkan pada akhir buku disebelah dalam kiri bawah. Label atau slip tanggal diletakkan pada akhir buku, biasanya berhadap-hadapan dengan kantong buku. Pada slip tanggal dituliskan nomor induk serta nomor panggil. Bila peminjam ingin meminjam maka petugas mencabut kantong kartu buku dari kantong, kemudian dimasukkan ke tiket pembaca. Tanggal harus kembali ditulis pada slip tanggal kembali. Bila tanggal kembali yang sama terdapat berbagai kantong buku, maka kantong buku disusun menurut nomor panggil. Bila anggota mengembalikan buku yang dipinjamnya, lokasi kartu buku dicari berdasarkan tanggal pada slip tanggal serta rincian identifikasi buku yang lain. Tiket buku kemudian dikembalikan sedangkan kartu buku dimasukkan kembali ke kantong.
6) Sistem Newark
Sistem ini mulai digunakan pada tahun 1900 oleh perpustakaan umum New Jersey, perpustakaan umum di Amerika Serikat kebanyakan menggunakan sistem ini karena dianggap paling mudah, aman, dan efektif. Sistem ini memerlukan beberapa peralatan seperti berikut ini :
Kartu peminjam untuk anggota perpustakaan yang berisi nama, alamat, nomor pendaftaran, tanggal berakhirnya kartu anggota, tanda tangan anggota, kolom tanggal pinjam, dan tanggal harus kembali. Rincian data-data tersebut ditulis dalam kolom-kolom pada kartu peminjam.
Kartu buku berisi keterangan mengenai buku, termasuk di dalamnya nomor panggil, pengarang, judul, nomor induk, dan kolom untuk tanggal harus kembali, serta nama peminjam.
Kantong buku merupakan kantong yang dilekatkan pada akhir buku, pada kantong ini diketik nama pengarang, judul, serta nomor induk.
Slip tanggal dilekatkan di bagian buku pada bagian akhir buku. Slip tanggal berisi nomor panggil, nomor induk dan kolom tanggal peminjaman.
Pada sistem ini peminjam membawa buku yang akan dipinjam beserta kartu anggota ke meja peminjaman. Petugas memberi cap tanggal harus kembali pada kartu peminjaman, slip tanggal, dan kartu buku. Peminjam diminta memberi tanda tangan dikartu buku. Buku dan kartu anggota diserahkan kepada peminjaman. Kartu buku kemudian dijajarkan menurut tanggal harus kembali. Dalam proses pengembalian buku, peminjam harus menyertakan kartu anggota. Petugas memeriksa tanggal harus kembali yang tertera pada slip tanggal. Petugas mencoret tanggal kembali yang tertera pada kartu buku dan slip tanggal. Bila pengembalian itu terlambat, peminjam diharuskan membayar denda. Apabila peminjam ingin memperpanjang pinjaman buku tersebut, petugas mengambil kartu buku dari jajaran peminjaman, kemudian membubuhkan stempel batas waktu harus waktu yang baru. Buku yang dipesan oleh pembaca lain, kartu buku berada di meja peminjaman. Pada kartu buku tersebut diselipkan kertas pesanan yang diberi nama, alamat, dan nomor kartu peminjaman. Kemudian, setelah buku dikembalikan dari peminjam pertama, buku ditahan dan dibuatkan pemberitahuan kepada pembaca yang memesan.
7) Sistem Detroit
Sistem ini hampir sama dengan sistem peminjaman Browne, hanya berbeda pada slip batas kembali diganti dengan kartu yang diberi tanggal terlebih dahulu. Sistem ini dikemukakan oleh Ralp A.Ulveling pustakawan dari Perpustakaan Umum Detroit, Amerika Serikat.
Sistem ini sangat praktis dan menghemat waktu, baik untuk petugas maupun pengguna. Pada sistem ini peminjam sendiri yang mengisi dan menuliskan bahan pustaka apa yang dipinjam.
VII. JASA RUJUKAN
A. Pengertian dan Latar Belakang Jasa Rujukan
Jasa rujukan adalah suatu penyelenggaraan dan pengaturan pelayanan rujukan oleh perpustakaan (reference service). Jasa rujukan ini merupakan salah satu kegiatan di perpustakaan yang tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan kesatuan dari layanan perpustakaan secara keseluruhan. Jasa rujukan ini sangat penting dilakukan oleh perpustakaan agar dapat memberikan informasi mendasar kepada pengguna jasa perpustakaan.
Tugas jasa rujukan adalah memberikan informasi kepada pengguna dengan menunjuk kepada sesuatu koleksi untuk mendapat informasi/ keterangan tentang suatu topik, arti kata dan lainnya.
Tujuan jasa rujukan adalah memberikan informasi dasar kepada pengguna jasa perpustakaan mengenai sesuatu topik yang diperlukan.
B. Jenis-Jenis Bahan Rujukan
1. Kamus
Kamus adalah daftar alfabetis kata-kata yang disertai dengan arti, lafal, contoh penggunaannya dalam kalimat, dan keterangan lain yang berkaitan dengan kata tadi. Ia memuat semacam imformasi tentang kata dengan segala aspeknya yang disusun secara alfabetis. Mulai dari ejaan, jenis kata, bahkan sampai pada sejarah pengguanaan kata tersebut untuk pertama kalinya apa bila kamus tersebut merupakan kamus lengkap. Akan tetapi kamus kecil biasanya paling tidak hanya memuat kata-kata dengan arti dan padanannya saja, tidak mencari seperti halnya kamus lengkap yang menjelaskan semua keterangan gramatika dari kata yang bersangkutan.
Kata law misalnya, yang berarti hukum, pada kamus kecil atau kamus-kamus yang tidak lengkap mungkin hanya padanan katanya saja yang dimuat. Disisni tidak dijelaskan aspek-aspek yang berkiatan dengan keterangan gramatika hukum laiannya seperti misalnya cara pengucapananya, dan aspek-aspek lain yang menyangkut kata huku atau law tadi. Pada kamus lengkap, kata tersebut dijelaskan secar gambling mulia dri ejaan, pengucapan, disusul dengan keterangan kata tersebut berasal dari pengaruh bahasa apa. Keterangan tentang berbagai arti kata dalam konteks yang berbeda beserta contoh-contohnya. Terkadang kamus ini juga memuat tentang beberapa devenisis atau batasan dari kata tersebut, karena ada banyak kata yang sama namun bisa mempunyai arti yang berbeda. Kata instructional, misalnya, yang asalnya dari bahasa inggiris, dalam kamus lengkap banyak artinya. Kamus oxpord mengartikannya sebagai perintah atau komando, memberikan pelajaran atau pengajaran tentang suatu subjek tertentu, dan sebagai belajar. Dalam pelaksaannya di lapangan, penggunaan kata ini disesuaikan dengan konteks kepentingan penggunanya. Yang jelas semua aspek dari kata yang dimuatnya pada kamus lengkap ini dicantumkan secara jelas.
Apabila diteliti dengan lebih jauh lagi, kamus sebenarnya mempunyai dua misi utama (katz, 1978 : 265). Yang pertama, kamus dikatan sebagai self-evident, berbukti sendiri. Semua data atau keterangan dalam kamus bisa dijadikan bukti otentiktentang masalah-masalah ilmiah. Orang jika menuliskan arti dan atau suatu devenisi untuk kata-kata yang tepat, biasanya lebih jelas meyakinkan jika mengambil rujukan sumbernya dari kamus, dan tidak memilih sumber referens lainnya. Hal ini demikian karena dalam kamus, arti denotatifdari kata yang dimuatnya sudah merupakan standar yang diakui oleh lembaga bahasa. Di samping itu, kamus juga bisa dijadikan alat penjejak suatu kata, sejarah kata, sampai pada kutipan kata tersebut, termasuk (tanggal dan) tahun pengucapannya dan oleh siapa kata tersebut diucapkan unutk pertama kali. Contohnya dibawah kata prudence pada Webster’s Dictionary of synonyms, para pembaca dan peneliti bisa menemukan kutipan yang berbunyi, “that type of person who is conservative from frudence but revolutionary in this dreams “, dan kutipan itu diucapkan oleh T.S. Eliot. Pada oxpord English dictionary bahkan lebih lenglap lagi dengan memuat sejarah kata flypaper (kertas penangkap alat) untuk pertama kalidigunakan pada tahun 1848.
Pada misinya yang kedua, kamus lebih menitikberatkan kepada masalah etimologi atau asal kata, nama-nama tempat utama dengan segala keterangan yang diperlukannya, nama-nama tokoh utama dari berbagai bidang dengan kemasyhurannya, istilah asing, ungkapan, padanan kata, dan lawan kata, singkatan, istilag slang (logat), dll. Ada beberapa jenis kamus yang menyerupai ensiklopedia karena keterangan-keterangannya lebih luas daripada sekedar informasi tentang aspek-aspek kata tadi, seperti adanya ilustrasi atau gambar-gambar tertentu yang ada hubungannya dengan topic yang dimuat dalam kamus yang bersangkutan.
Sementara itu dilihat dari ruang lingkupnya, kamus dikelompokkan ke dalam bagian-bagian sebagai berikut :
a. Kamus Umum Bahasa
Biasanya meliputi lebih dari seratus ribu entri. Misalnya yang dalam bahasa Inggiris antara lain adalah kamus oxpord, kamus kolegiat, dan kamus meja. Sedangkan yang dalam bahasa Indonesia misalnya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jenis kamus ini bisa digunakan untuk setiap orang yang membutuhkannya. Sekedar contoh menurut pembagian jumlah entrinya, kamus lenglap biasanya memuat sekitar 265.000 entri, dan bahkan lebih. Sedangkan kamus kolegiat dan kamus meja memuat antar 130.000 samapai dengan 180.000 entri, jenis kamus ini biasanya hanya memuat satu bahasa.
b. Kamus Khusus
Jenis amus ini hanya memusatkan diri pada daftar kata-kata atau istilah dalam satu atau beberapa bidang ilmu tertentu saja beserta penjelasan kata istilah yang didaftarnya tadi. Misalnya ada kamus yang hanya semua atau sebagian besar kata atau istilah tentang kedokteran saja, tentang pertanian saja, atau tentang ilmu-ilmu social saja. Jadi ruang lingkupnya sebatas bidang yang dicakupnya.
c. Kamus Bahasa Asing
Kamus bahasa asing terdiri atas dua bahasa (bilingual). Kamus ini menyediakan dua kata dalam bahasa yang berbeda. Dari bahasa yang satu kepada bahasa yang lain. Misalnya kamus Inggri-Indonesia atau sebaliknya. Disini dijelaskan arti dan lafal serta keterangan gramatika lainnya pada bahasa yang menjelaskannya atau bahasa padananya. Beberapa idiom yang ada pada bahasa yang didaftarnya juga sering dibuatkan keterangannya. Serta contoh penggunaan dalam kalimat.
Jenis kamus ini sangat berguna bagi seorang penterjemah dan orang-orang yang sedang belajar menguasai bahasa asing.
2.Ensiklopedia
Ensiklopedia adalah daftar istilah-istilah ilmu pengetahuan dengan tambahan keterangan ringkas tentang arti dari istilah-istilah tadi. Bentuknya mirip kamus, yaitu sama-sama merupakan daftar istilah yang disusun berdasarkan urutan abjad, hanya pada ensiklopedia lebih merupakan ringkasan topic-topik atau istilah yang ditampungnya. Orang sering menyebutnya dengan kamus besar ilmu pengetahuan. Katz menyebutnya sebagai karya sastra yang berisi informasi luas tentang semua cabang ilmu pengetahuan manusia., yang umumnya disusun berdasarkan urutan abjad. Penegrtian luas disini bukan berarti mencangkup semuanya secara merinci dan lengkap, namun lebih merupakan keseluruhan konsep dan penjelasan ringkas tentang semua informasi disemua cabang ilmu pengetahuan. Diderot mengatakan dengan istilah klasikya sebagai pengumpulan ilmu pengetahuan yang terpencar dimuka bumi….agar anak-anak kita bisa belajar melaluinya .
Ensiklopedia menampung semua topik atau istilah tentang fakta atau peristiwa, bahkan hampir dapat menjawab semua pertanyaan mengenai apa, siapa, bagaimana, dan kapan, serta dimana suatu peristiwa terjadi.
Tujuan diterbitkannya ensiklopedia adalah untuk meringkas dan megorganisasikan akumulasi ilmu pengetahuan, atau setidaknya sebagian dari itu untuk menarik pembaca.
a. Ensiklopedia Umum (untuk Dewasa) :
  1. The New Ensiklopedia Britannica, edisi ke-15, Encyclopedia Britannica, Inc., Chicago, 1974, 30 jilid.
  2. The Encyclopedia Americana, Grolier, Inc., New York, 30 jilid.
b. Ensiklopedia Khusus (bidang subjek terbatas):
  1. Landau. Thomas, Encyclopedia of Libraianship. Hafner, New York, 1968.
  2. Encyclopedia of Education, McMillan Company, New York, 1971, 10 jilid
3. Direktori
Direktori sering disebut dengan buku alamat karena informasi yang dimuat adalah alamat-alamat seseorang, badan-badan organisasi dan keanggotaannya. A.L.A. Glossary of Library Terms, memberikan batasan adalah daftar nama orang atau organisasi yang disusun secara sistematis, umumnya berdsarkan urutan abjad atau kelas.
Ruang lingkup direktori menurut Katz (1978) sebagai berikut:
  1. Direktori Lokal, Biasanya terbatas hanya berupa buku telepon dan direktori kota setempat;
  2. Direktori Pemerintah, Jenis Direktori ini pada umumnya diterbitkan oleh pemerintah dalam rangka menyebarluaskan informasi tentang lembaga dan data lainnya yang dianggap penting kepada masyarakat luas. (Direktori Perpustakaan Khusus dan Sumber Informasi di Indonesia 1985).
  3. Direktori Lembaga, yakni mendaftar lembaga-lembaga seperti Sekolah, Yayasan, Perguruan Tinggi dan Kantor-kantor Pemerintah.
  4. Pelayanan Investasi (Investment Service), yakni Direktori yang memberikan laporan yang merinci tentang perusahaan perorangan, dan umum.
  5. Direktori Profesional, yakni memuat organisai-organisasi profesi seperti ahli hukum dokter, pustakawan dan juga para ilmuan lainnya.
4. Atlas
Atlas adalah kumpulan peta, diagram, grafik, dan gambar yang terjilid. Di dalamnya memuat berbagai informasi geografis, atau hal-hal yang berhubungan dengan Negara, daerah, tanah, dan keterangan penting lainnya seperti hasil bumi, tambang, dan keadaan cuaca.
5. Globe
Globe dikenal juga dengan sebutan bola dunia yang memuat informasi tata letak dan keadaan geografis bumi secara utuh.
6. Almanak
Yaitu buku yang aslinya berisi seperti kalender yang mencatat perubahan-perubahan
cuaca, ramalan-ramalan astronomi dan lain-lain. Tetapi sekarang merupakan catatan bunga rampai. Contoh : Almanak Gampang, Almanak Dewi Sri.
7. Biografi
Perkataan biografi dari bahasa Yunani, yaitu Bios dan Graphein yang berarti menulis. Jadi arti dan tujuan biografi ialah menuliskan sejujur mungkin riwayat hidup seseorang dari lahir sampai saat meninggalnya dan di dalamnya diungkapkan bermacam-macam aspek dari sifat-sifatnya, pribadinya, serta pandangan hidupnya. Biografi ada yang bersifat individual ( kisah kehidupan seseorang ) dan ada yang bersifat kolektif (kisah kehidupan banyak orang dan di susun secara alfabetis ).
Contoh : Biografi Individual : Biografi Sukarno
Biografi Kolektif : Biografi tokoh kebudayaan Indonesia
8. Buku Statistik
Buku yang berisi sumber informasi yang siap pakai dalam bidang pengetahuan tertentu.
Contoh : Buku Statistik perdagangan kopi di Indonesia tahun 2003
Buku Statisitik perdagangan karet di Indonesia tahun 2002
9. Sumber Geografi
Sumber geografi biasanya berupa atlas atau peta. Atlas dimasukkan dalam koleksi referens karena di dalamnya selain terdapat peta-peta, juga dilengkapi dengan gambar, daftar grafik, tabel dan teks serta indeks. Contoh : Atlas Umum. Disamping atlas dan peta juga ada Gazetter yaitu kamus dari tempat-tempat yang dilihat dari segi geografis. Keterangan yang disertakan nama-nama lain : sejarahnya, perkembangannya, statistiknya, kebudayaannya, dan lainnya.
10. Sumber Elektronis
Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, memungkinkan sumber rujukan tidak hanya berupa buku atau bahan tertulis, melainkan dapat juga melalui internet. Penelusuran melalui internet bermanfaat untuk mengetahui perkembangan informasi mengenai suatu masalah secara cepat dan tingkat kemutakhiran data tinggi, dan lebih lengkap serta menghemat waktu.
C. Jenis-jenis Pertanyaan Rujukan dan Cara Menjawabnya
1. Cara menyampaikan pertanyaan rujukan
a. Melalui surat:
1) Keterangan pertanyaan terbatas pada lembar kertas yang diteima.
2) Keterbatasan infornmasi
3) Waktu tidak terbatas
b. Melalui telepon:
1) Keterangan pertanyaan dapat diperjelas sampai rinci
2) Waktu sangat terbatas
3) Jawaban tidak dapat di jawab saat itu juga (memerlukan penelusuran ).
c. Langsung berhadapan :
1) Waktu lebih lama dan dapat diatur menurut situasi dan kondisi
2) Dapat berdialog langsung sehingga mencapai titik focus pertanyaan.
3) Dapat memberikan koleksi referens secara langsung
4) Menciptakan suasana keakraban dalam hubungan kerja bagian layanan.
2. Cara menjawab pertanyaan rujukan
a. Direction–Bimbingan
Jenis pertanyaan rujukan direction atau bimbingan adalah pertanyaan rujukan yang masih memerlukan bimbingan dari petugas perpustakaan atau pihak pustakawan. Hal ini terjadi karena sumber rujukan yang digunakan masih memerlukan penjelasan untuk menggunakannya. Misalnya untuk penggunakan buku rujukan sumber biografi.
b. Ready Reference
Jenis pertanyaan rujukan yang telah siap dengan sumber rujukan yang digunakan. Pertanyaan dari pengguna jasa rujukan cukup dijawab dengan satu sumber yang sudah siap pakai tanpa memerlukan analisis atau bimbingan dari pustakawan yang bertugas. Misalnya pertanyaan mengenai alamat kantor Perpustakaan Nasional RI, maka jawaban sudah pasti Jl. Salemba Raya No.28 A Jakarta Pusat, atau alamat salah satu kantor Departemen di suatu Negara.
c. Search atau Penelusuran
Jenis pertanyaan rujukan yang memerlukan penelusuran biasanya berupa pertanyaan yang memerlukan analisis tertentu. Oleh sebab itu jika pengguna menghendaki jawaban yang lebih rinci, maka petugas layanan referens harus mencari sumber informasi lain yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Untuk dapat memenuhi permintaan tersebut maka petugas harus terlebih dahulu menjelaskan kepada pihak pengguna bahwa untuk menjawab pertanyaan tersebut memerlukan waktu untuk pencarian.
VIII. STATISTIK DAN PELAPORAN PERPUSTAKAAN
A. Tujuan pembuatan statistik dan pelaporan perpustakaan
Pembuatan statistik perpustakaan merupakan tugas perpustakaan yang cukup penting, karena tolak ukur kemajuan perpustakaan dapat dilihat dari statistik perpustakaan. Statistik memuat informasi kualitatif dari aktifitas perpustakaan, misalnya jumlah pengunjung perpustakaan per tahun, junlah tambahan koleksi per tiga (3) bulan, sebagainya. Dari perbandingan statistik perpustakaan selama beberapa tahun dapat memberikan gambaran unjuk kerja perpustakaan. Kemajuan perpustakaan pada tahun berikutnya dapat dikaji dari data statistik perpustakaan sebelumnya. Statistik perpustakaan dapat berfungsi untuk beberapa hal, antara lain :
1) Untuk menyusun laporan
2) Mengukur efesiensi berbagai kegiatan dan kinerja pustakawan
3) Menyusun rencana kerja perpustakaan
4) Sebagai bahan pertimabangan dalam penambahan anggaran dan staf
5) Sebagai alat evaluasi kemajuan atau keberhasilan perpustakaan
Pelaporan perpustakaan diperlukan dalam setiap kegiatan dan program yang telah dikerjakan oleh perpustakaan. Pelaporan ini merupakan pertanggungjawaban perpustakaan dalam aktivitasnya, pelaporan ini juga berfungsi sebagai tolok ukur keberhasilan kegiatan perpustakaan, dan gambaran kemajuan perpustakaan. Laporan perpustakaan dapat diambil dari data statistik perpustakaan, yang meliputi : statistik bahan pustaka, statistik anggota, statistik pengunjung, layanan perpustakaan dan lain sebagainya. Laporan ini dapat dilakukan dalam skala yang sudah ditentukan, mulai dari laporan harian, laporan bulanan, lapaoran tri wulanan, semester, atau tahunan. Pelaporan dalam bentuk statistik tersebut menyebabkab adanya istilah statistik bulanan, statistik tri wulanan, atau statistik tahunan. Tetapi pada umumnya untuk laporan diserahkan dalam bentuk laporan statistik tahunan. Statistik perpustakaan dapat disajikan dalam bentuk tabel, grafik, atau diagram.
B. Unsur-unsur yang harus dilaporkan
Pembuatan laporan perpustakaan menggambarkan unsur-unsur dalam kegiatan perpustakaan yang harus dilaporkan, yakni:
1. Pengadaan bahan pustaka : meliputi jumlah koleksi yang dibeli, hadiah atau dari hasil dari pertukaran. Data ini dikelompokan berdasarkan jenis koleksi dan jenis subjek.
2. Pengolahan bahan pustaka : meliputi jumlah koleksi yang sudah di katalog dan dibuat klasifikasinya.
3. Keanggotaan : meliputi jumlah anggota berdasarkan kategori tertentu ( umur, jenis kelamin, pekerjaan, tempat tinggal, dsb ) dan jumlah pengunjung.
4. Koleksi yang dipinjam : meliputi jumlah koleksi yang dipinjam baik buku maupun bentuk lainnya, hal ini dapat dikelompokan berdasarkan bahasa, subjek dan sebagainya.
5. Layanan rujukan: meliputi jumlah pertanyaan yang masuk, pertanyaan yang terjawab dalam waktu singkat atau memerlukan waktu penelusuran yang lama.
6. Jasa reproduksi meliputi berapa jumlah koleksi yang direproduksi, termasuk berapa jumlah koleksi yang sudah difotokopi.
DAFTAR PUSTAKA
Perpustakaan Nasional RI. Perpustakaan Sekolah: Suatu Petunjuk Membina, Memakai, dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah. Jakarta : Perpusnas RI, 1994.
Trimo, Soejono. Buku Panduan untuk Mata Kuliah Reference Work is Bibliogrfi dengn Sistem Moduler. Jakarta : Bumi Aksara, 1997.
Yusuf, Pawit M, Layanan Perpustakaan dan Informasi. Bandung : JIP FIKOM Universitas Padjadjaran, 1995.
Jurnal Perpustakaan Pertanian, Vol. 3 (2) 2004.
Media Pustakawa Indonesia. Vol. 11 (2) Juni 2004.
{HYPERLINK “ http://www.pnri.go.id”/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar